published on Indonesia Goverment 24 Mey 2008 at 00.00 p.m

JUM’AT 24 Mei 2008 pukul 00.00 WIB tak lebih dan tak kurang dari sedetik detak jam berlalu. Tepat waktu itu, secara resmi pemerintah mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), tentunya sebuah kebijakan yang banyak menimbulkan kontroversi pro dan kontra dikalangan masyarakat. Bukan hanya itu banyak kaum cendikia angkat bicara,,,dan tak luput para mahasiswa yang menyuarakan unek-unek lewat aksinya, kesemuanya mengkritisi kebijakan tersebut dan secara tegas menolak kenaikan harga BBM.

Apa penyebab melonjaknya Harga BBM tersebut?

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh pemerintah dalam menjawab pertanyaan tersebut, Kenaikan harga minyak dunia dari 90 dolar AS per barel yang terus merangkak naik hingga menembus harga 101,32 dolar AS per barel. Dengan kenaikan harga minyak dunia yang tentunya berimbas pada pembengkakan subsidi BBM, sehingga untuk menyelamatkan APBN Pemerintah berasumsi menyesuaikan harga BBM dengan harga minyak dunia yang ada. Dalam kebijakan subsidi BBM, APBN-P 2008 memberikan anggaran Rp 126 triliun dari dana maksimum Rp 135,1 triliun dengan asumsi harga minyak dunia 90-100 dolar AS per barel. Hal ini tentunya menjadi alasan utama pemerintah dalam menyesuaikan harga BBM dengan harga minyak dunia di luar negeri demi menyelamatkan APBN-P tahun 2008.

Alasan pemerintah tersebut tentunya sudah menjadi alasan klasik yang pernah terjadi di negeri ini, seperti halnya pada kenaikan harga BBM pada tahun-tahun sebelumnya. Demi menyelamatkan APBN-P yang mengakibatkan berbagai dampak sosial di masyarakat karena meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok. Tentunya keputusan tersebut menjadi buah simalakama, karena dampak yang ditimbulkan memang akan sangat dirasakan langsung oleh masyarakat terutama mereka yang berada di kalangan ekonomi paling bawah. Bayangkan, H-7 sebelum pengumuman resmi dari pemerintah kebutuhan pokok sudah melejit dibanding dengan harga sebelumnya. suatu dampak yang tentunya sangat mencekik bagi kaum bawah.

Akan tetapi jika kita analisa lebih dalam apa yang akan terjadi bila harga BBM tidak disesuaikan, maka akan menambah beban subsidi bagi pemerintah. Sebagaimana yang terjadi untuk menutup pembengkakan subsidi BBM, pemerintah harus menyunat subsidi untuk pendidikan sebanyak 10 % dari jumlah subsidi yang dianggarkan. Suatu yang tak terbayangkan bagi dunia pendidikan, dimana seharusnya pendidikan dijadikan suatu tolok ukur kemajuan bangsa menjadi terbengkalai karena alasan klise masalah dana dari pemerintah. Banyak gedung sekolah tak terawat dan bahkan nyaris hancur, anak-anak dari kalangan tidak mampu yang tak dapat mengenyam bangku sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi selama 10 tahun mendatang jika hal ini masih terjadi??? Padahal seperti yang kita tahu, para penikmat subsidi BBM adalah mereka orang-orang yang tak berhak menerima, orang-orang kaya yang mampu menaiki mobil mewah mereka, para pelaku bisnis dan pengusaha nakal yang dengan sengaja mengeruk keuntungan sendiri.

Nasib Anak-anak Indonesia jika \ Kita sebagai bagian dari masyarakat dan warga negara yang baik tentunya harus lebih jeli memandang dan menyikapi hal tersebut dengan lebih arif. Bukan hanya aksi yang anarkis dengan tuntutan yang tidak membela rakyat kecil tapi cenderung membela para penikmat-penikmat subsidi nakal. Bukan hanya suatu tuntutan yang menolak karena kenaikan tersebut memang tidak dapat dihindari, akan tetapi suatu tuntutan kepada pemerintah bagaimana agar adanya keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran bagi masyarakat. Pendapatan disini berupa peningkatan upah kerja baik UMR-UMK sebagai implementasi dari naiknya harga-harga kebutuhan pokok akibat naiknya harga BBM.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.